Peringatan 100 tahun Pramoedya Ananta Toer berlangsung pada 6 Februari 2025. Ia dikenal sebagai sastrawan ternama Indonesia dengan lebih dari 50 karya dan sudah diterjemahkan dalam 42 bahasa. Simak ulasan biografi singkat Pramoedya Ananta Toer dan daftar karyanya.
Pramoedya Ananta Toer, yang lebih dikenal sebagai Pram, adalah seorang sastrawan ternama Indonesia. Ia dilahirkan di Blora, tanggal 6 Februari 1924.
Ayah Pram bernama M. Toer, seorang bupati Kediri. Ibu Pram bernama Saidah, putri penghulu Rembang yang mendapatkan pendidikan Islam pesisir.
Sebenarnya, Pram memiliki nama lengkap Pramoedya Ananta Mastoer. Mastoer diambil dari nama ayahnya. Pram memutuskan untuk mangalikan nama ‘Mas’ karena dianggap mirip dengan istilah feodal.
Sesuai dengan namanya, Pram juga meminta nama Toer diberikan kepada adik-adiknya, bukan Mastoer. Pram adalah anak sulung dari sembilan bersaudara.
M. Toer dan ayah Pramoedya Ananta Toer hidup dalam kultur Jawa dan belajar di sekolah Barat. Semasa hidup, ia pernah menjadi guru di Sekolah Holland Indische (HIS) Rembang. Setelah menikah, M. Toer menjadi kepala Sekolah Perguruan Budi Utomo di Blora.
Selain itu, ia merupakan tokoh sosial politik lokal dan beberapa kali menjabat jabatan yang pernah dipikili Dr. Sutomo sebelum berpindah ke Surabaya. M. Toer pernah menjadi Ketua Pilang Partai Nasional Indonesia (PNI) Blora.
Sementara ibunya, Saidah, dididik dalam Islam pesisir. Menurut Pram, lebih murni daripada Islam pedalaman. Saidah pernah belajar di sekolah dasar Belanda.
Tidak hanya itu, Saidah juga belajar secara privat di rumah dengan menghadap guru-guru Belanda yang dibawa sang kakek. Pada usia 18 tahun, Saidah menikah dengan gurunya, M. Toer, yang telah berusia 32 tahun.
Tahun 1929, Pramoedya Ananta Toer, putra M. Toer-Saidah pertama kali masuk Pendidikan Sekolah Dasar Perguruan Budi Utomo Blora, di mana ayahnya bekerja menjadi kepala sekolah. Saat masih mengikuti pendidikan dasar, Pram berulang kali tidak lolos ujian dan tidak berhasil naik kelas.
Pram kemudian dikeluarkan dari sekolah dan untuk satu tahun ayahnya sendiri yang mengajar padanya secara teliti dan keras. Setelah itu, Pram kembali ke sekolah lagi.
Sesudah itu karyanya mulai normal sampai akhirnya selesai pada tahun 1939. Diperlukan waktu hampir 10 tahun untuk menyelesaikan pendidikan dasar.
Setelah lulus, Pram sempat tidak diperbolehkan orang tuanya melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) atau setara SMP. Bahkan, ayahnya meminta Pram mengulang di sekolah dasar.
Sekolah Telegraf Vakschool (Toko Sekolah Teknik Telegraf) di Surabaya
Namun, Pram masih ingin melanjutkan pendidikannya. Ia mengambil uang hasil penjualan padi untuk menyelesaikan biaya sekolah. Pada tahun 1940, Pram akhirnya melanjutkan pendidikannya di Radio Vakschool (Sekolah Kejuruan Telegraf) Surabaya.
Dia memiliki basis pengetahuan kelistrikan dari buku-buku pamannya yang bekerja di Kaledonia Baru sebagai seorang mekanik.
Satu setengah tahun kemudian, Pram berhasil menyelesaikan sekolah radio. Namun sayang, ia tidak menerima ijazah. Alasannya, ijazah harus dikirim ke Bandung terlebih dahulu untuk disahkan, tapi ternyata tidak dikembalikan.
“Jarang, Pram memutuskan untuk Kembali ke Blora. Waktunya bersamaan dengan masuknya tentara Jepang ke Indonesia. Tujuan kepulangan Pram ke Blora adalah agar tidak diperintah menjadi militer kaisar Jepang. Ia telah terdaftar sebagai calon operator radio di Angkatan Udara.”
Pram harus bekerja keras untuk menghidupi adik-adiknya dengan menjual rokok, tembakau, hingga benang tenun saat pulang ke Blora. Ayahnya tidak pulang dan ibunya jatuh sakit, hingga pada bulan Mei 1942, sang ibu meninggal dunia.
Kisah berlanjut setelah Pram memutuskan pergi ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan di Taman Dewasa kelas II Taman Siswa. Di sekolah itu, ia bertemu dengan Guru Mara Sutan, walhal ia hanya mengajar Bahasa Indonesia.
Dalam mata pelajaran ini, Mara Sutan meningkatkan semangat kebangsaan pada murid-muridnya. Siang dan malam hari, Pram bekerja sebagai wartawan di Kantor Berita Jepang, Domei.
Pada bulan Februari 1944, Pram dipilih untuk belajar di “Stenografi Tjuo Sangiin” selama setahun. Pada saat itu, Pram mulai mengenal berbagai tokoh berpengaruh.
Setelah itu, ia menjadi mahasiswa di Sekolah Tinggi Islam di Gondangdia (yang sekarang menjadi kantor imigrasi). Pram belajar filsafat, sosiologi, dan psikologi. Ketika kuliah, Pram juga kembali bekerja di Domei, bagian khusus perkembangan perang Cina-Jepang.
Pada Agustus 1945, Pram Kembali ke Jakarta usai tinggal singkat di Kawedanan, Kediri, dan singgah sebentar di Blora. Bulan Oktober 1945, Pram menjadi anggota Badan Keamanan Rakyat dan ditempatkan di Cikampek dalam kesatuan Banteng Taruna (Resimen 6) sebagai prajurit II.
Pram Pimpin Pasukan, Jadi Redaktur Majalah, hingga Masuk Bioskop
Pada pertengahan tahun 1946, Pram menduduki posisi perwira persuratkabaran dengan pangkat letnan dua. Ia memimpin pasukan yang terdiri dari 60 orang prajurit. Barisan depan pasukannya yang berpusat di Cibarusa, Klender, Bekasi, Cakung, Kranji, Lemah Abang, Karawang, dan Cileungsi, sementara markas besar berada di Cikampek.
Meskipun demikian, ia meninggalkan pekerjaannya pada 1 Januari 1947 tanpa menerima gaji yang belum dibayar selama tujuh bulan. Pram merasa benci dengan praktik suap, permusuhan, dan konflik kepentingan di dalam tentara.
Ia lalu kembali ke Jakarta dan bekerja sebagai penyunting majalah Sadar, sebuah bentuk Indonesia dari majalah The Voice of Free Indonesia bersama Naipospos.
Pada Hari Rabu, 21 Juli 1947, operasi militer Belanda meletus. Semua wilayah yang dikuasai Republik Indonesia di Jakarta dikuasai oleh tentara Belanda. Pram menerima tugas dari atasan untuk mencetak dan mendistribusikan surat kabar dan majalah perlawanan.
Akibatnya, dia ditangkap Belanda dengan bukti surat-surat di kantongnya. Pram kemudian disiksa Angkatan Laut Belanda. Ia dimasukkan ke dalam tahanan tangsi Angkatan Laut di Gunung Sahari lalu dipindahkan ke tangsi Polisi Militer. Diakhirnya dipindahkan ke Pulau Edam.
Seperti “Perburuan dan Gerilya” dan “Keluarga Gerilya”. Karya-karya itu, tentu saja dapat diekspor dan diterbitkan di banyak majalah karena bantuan Prof. Resink. Di antaranya adalah “Mimbar Indonesia” dan “Siasat”.
Pram dilepaskan pada 18 Desember 1949. Terlepas dari tawarannya, Pram menerima penghargaan sastra dari Balai Pustaka atas karyanya yang berjudul “Perburuan”.
Pada 15 Januari 1950, Pram menikah dengan Arfah Iljas, seorang anggota Palang Merah. Pada tahun yang sama, Pram bekerja di Balai Pustaka sebagai editor bagian sastra Indonesia modern. Ia juga menjadi editor majalah anak-anak: Kunang-Kunang.
Baru dua hari menjadi redaktur di Balai Pustaka, Pram harus pulang ke Blora karena ayahnya meninggal. Peristiwa ini dituangkan dalam roman ”Bukan Pasar Malam”.
Pada bulan Mei 1953, Pram pergi ke Belanda untuk belajar dengan beasiswa dari Yayasan Kerja Sama Kebudayaan Belanda-Indonesia (Stichting voor Culturele Samenwerking, singkat Sticusa). Saat di Belanda, ia menulis novel Midah Si Manis Bergigi Emas.
Pada Januari 1954, dia kembali ke Indonesia. Tapi, perusahaan L & F Acy Duta yang didirikan pada 1952 tidak bisa digelar. Musim sulit menjadikan Pram dipaksa meninggalkan istrinya setelah empat kali digusur.
Keponakan Mohammad Husni Thamrin. Februari 1957, Pram menulis artikel “Jembatan Gantung dan Konsepsi Presiden” di Harian Rakjat untuk mendukung gagasan Presiden Soekarno tentang Demokrasi Terpimpin.
Bersama Henk Ngantung dan Kotot Sukardi, Pram membentuk delegasi seniman untuk menyatakan dukungan atas cita-cita Demokrasi Terpimpin.
Delegasi seniman terdiri dari 67 orang. Mereka bertemu dengan presiden pada Maret 1957. Pram kemudian dilantik sebagai anggota penasihat Kementerian Tenaga Rakyat (Pengerahan Tenaga Rakyat), 28 Desember 1957.
Pada tanggal 23 Januari 1959, Pramoedya Ananta Toer menghadiri Kongres Nasional I Lembaga Kebudayaan Rakjat (Lekra) di Solo. Pram tidak merupakan anggota organisasi tersebut, tetapi hadir sebagai sastrawan berpengaruh. Ia kemudian ditetapkan menjadi anggota pleno Lekra berdasarkan keputusan kongres tersebut.
Maret 1960, Pram menerbitkan Hoakiau di Indonesia. Buku ini dituduh mengetengahkan penggalangan opini yang mendukung pedagang-pedagang keturunan Tionghoa yang diusir dari wilayah Kecamatan. Dalam hasilnya, ia dijerat dan dipenjara di Cipinang selama sembilan bulan tanpa proses pengadilan.
Mulai tanggal 13 Oktober 1965, semua kegiatan intelektual yang dilakukan tiba-tiba terhenti. Dia dituduh terlibat dalam kegiatan-kegiatan Lekra. Rezim Orde Baru menilai Lekra sebagai organisasi yang didominasi oleh komunisme.
Tanpa proses pengadilan, Pram ditahan di Rumah Tahanan Militer Tangerang hingga Bulan Juli 1969. Lalu, dia dipindahkan ke Penjara Karang Tengah, Nusakambangan. Pada tanggal 16 Agustus 1969, Pram bersama 850 tahanan politik lainnya dikirim ke Pulau Buru.
Pada tahun 1973, Pram diizinkan menulis di Pulau Buru. Sejak itu, ia menulis trilogi Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Ia juga menulis Arok Dedes, Arus Balik, Mangir, dan Nyanyian Sunyi Seorang Bisu.
Pram dibebaskan pada 21 Desember 1979 setelah lewat penjara Magelang, Semarang, dan Salemba. Meskipun demikian, Pramoedya Ananta Toer dikenankan wajib melapor dan tidak memiliki hak memilih atau dipilih dalam Pemilu.
Novel “Bumi Manusia” diterbitkan pada 17 Agustus 1980 dan “Anak Semua Bangsa” diterbitkan pada bulan Desember 1980. Karyanya mendapat sambutan baik dari masyarakat. Namun, novel-novel tersebut dilarang beredar di seluruh Indonesia oleh pemerintah sejak 29 Mei 1981.
Alasannya, novel-novel ini mengandung ajaran terlarang, yaitu perlawanan kelas. Pada tahun 1985, terbit novel “Jejak Langkah dan Sang Pemula”, biografi Tirtoadisuryo. Seperti novel-novel sebelumnya, karya-karya tersebut dilarang beredar mulai 1 Mei 1986.
Pada tahun 1987, terbitlah “Gadis Pantai” dan diikuti oleh “Rumah Kaca” dan “Hikayat Siti Mariah” (April 1988). “Rumah Kaca” dilarang diedarkan pada tanggal 8 Juni 1988, sementara “Gadis Pantai” dan “Hikayat Siti Mariyah” dilarang diedarkan pada tanggal 3 Agustus 1988.
Pram meninggal pada 30 April 2026. Ia menderita radang paru-paru, penyakit yang selama ini tidak pernah menjangkitinya. Tidak hanya itu, Pram juga mengalami komplikasi ginjal, jantung, dan diabetes.
Pramoedya Ananta Toer atau Pram telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing. Tak hanya itu, namanya juga berkali-kali muncul sebagai peraih Nobel Sastra.
lengkap beserta tahun terbit:
