Akademik Penting, Bagaimana dengan Sosial-Emosional?

Bayangkan jika anak ibu hanya fokus pada peningkatan kemampuan akademik, di saat yang bersamaan mereka bisa kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kreativitas, empati, atau kemampuan sosial. Akibatnya, anak mungkin merasa tertekan dan kehilangan motivasi karena merasa hanya dihargai saat mereka berhasil di sekolah.

Padahal, hasil survei tentang Keterampilan Emosi Sosial (SSES) oleh OECD menunjukkan bahwa anak dengan kemampuan sosial emosional yang kuat justru lebih siap menghadapi tantangan akademik, karir, dan masa depan.

Psikolog klinis anak dan remaja, Anastasia Satriyo, mengatakan bahwa prestasi akademik memang berpengaruh, tetapi bukan hal-hal tunggal untuk menilai kesuksesan anak. Hal ini akan menjadi masalah jika anak biasanya hanya diharapkan untuk mengejar keinginan dan ekspektasi orang tua untuk menjadi pintar di sekolah, sehingga kemampuan anak untuk mengenali dirinya sendiri dapat terganggu.

Bacaan Lainnya

“Mereka mungkin tumbuh dengan rasa takut gagal, kesulitan mengambil keputusan, atau tidak tahu apa yang mereka sebenarnya sukai. Ketika memasuki dunia kerja, anak-anak ini sering merasa mudah gusar, kurangnyo beradaptasi dengan lingkungan baru, atau kurang memiliki kemampuan untuk mengambil tindakan karena mereka terbiasa mengikuti instruksi tanpa belajar mengenali potensi diri mereka,” kata Anas.

Terutama pada saat ini, menurut Anas, kemampuan dalam menghadapi dunia kerja tidak hanya terbatas pada hasil akademis saja.

“, maupun persiapan dunia kerja, itu sangat dibutuhkan kemampuan-kemampuan di aspek sosial-emosional. Seperti kemampuan berempati, berkomunikasi, berkolaborasi, bekerja sama dalam kelompok,” tegas Anas, yang juga dosen Bimbingan dan Konseling Bentara Campus itu.

Belajar untuk Seimbangkan Prestasi Akademik dan Keterampilan Sosial-Emosional Anak

Beberapa trik yang baik untuk membantu anak Anda meningkatkan keterampilan sosial dan emosi antara lain:


1. Latih Keterampilan Sosial Emosi kepada Diri Sendiri

Orang tua harus paham betapa pentingnya keterampilan sikap sosial, akan sangat baik jika orang tua latih keterampilan ini pada diri sendiri dulu.

Berbicara tentang keluhan dengan orang yang bisa dipercaya, memiliki pikiranpositif, aktif olahraga, makan makanan seimbang, serta menenangkan diri secara relaksasi dapat membantu Ibu untuk mengelola stres dengan baik.

Sistem saraf kita, ketegangan kita akan dialihkan ke anak. Waktu yang dihabiskan bersama anak itu sangat penting dan berharga. Apa yang kita lakukan bersama anak itu adalah investasi untuk perkembangan otak anak hingga masa depan.


2. Buatlah Rutinitas Percakapan Bermutu di Rumah

Salah satu kesalahan umum orang tua adalah kurangnya interaksi santai dengan anak-anak. Padahal, komunikasi yang terbuka dapat membangun kepercayaan diri serta keterampilan sosial bagi mereka.

Jadikanlah waktu setiap hari untuk membahas tentang kegiatan sehari-hari anak. Moms dapat bertanya:

Apa yang terjadi hari ini yang membuatku bahagia?

Apakah ada sesuatu yang membuat kamu bingung atau sedih?

Jangan memberi saran langsung atau solusi. Dengarkan dengan empati sehingga anak merasa dihargai.

💡 Mengapa ini penting? Anak-anak yang merasa didengar lebih percaya diri untuk mengungkapkan pendapat dan lebih siap menghadapi tantangan sosial.


3. Menemani Anak dalam Menggunakan Teknologi

Pada era digital ketika informasi apa pun dapat disuguhkan dengan sangat mudah bagi anak-anak, sudah menjadi hal penting bagi orang tua untuk menyertai dan memberi dukungan yang tepat untuk mereka.

Berikut adalah frase tersebut dalam Bahasa Indonesia: Di sini orang tua bisa membantu menyaring informasi apa saja yang dapat diakses anak. Jangan lupa untuk mendengarkan dahulu apa saja konten yang memang mereka ingin lihat, setelah itu orang tua bisa membantu memberikan pertimbangan yang bijak jika memang ada konten-konten yang belum sesuai dengan umur anak.

Ibu dapat berkonsultasi dengan anak untuk menentukan jam layar yang paling baik.

Pastikan mereka tetap memanfaatkan waktu mereka untuk membangun hubungan keluasan, misalnya bermain bersama atau berinteraksi secara langsung dengan teman-teman sekolahnya.


4. Memadukan Hidup Berakademik dengan Aktivitas Luar Sekolah

Penting bagi orang tua memahami bahwa setiap anak itu unik dan memiliki kebutuhan yang berbeda. Aktivitas non-akademik seperti olahraga, seni, atau bermain bersama teman sebaya sekaligus penting untuk melatih ketahanan mental, menjaga kesehatan, dan kebahagiaan mereka secara keseluruhan.

Orangtua bisa membuat jadwal yang fleksibel, di mana anak punya waktu untuk belajar dan waktu untuk mengeksplorasi minat mereka. Contohnya, setelah aktifitas belajar, anak bisa diajak mengikuti kelas seni atau olahraga yang mereka sukai.

Apa tujuan mereka? Apa yang akan membuat mereka bahagia?

Ketika anak merasa mendapat dukungan yang seimbang dalam bidang akademik dan kegiatan lain luar kelas.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *